Sejarah Nama Permiri di Lubuklinggau, Jejak Perjuangan Minyak Bumi Masa Kemerdekaan

 Lubuklinggau – Permiri merupakan nama salah satu kelurahan di Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Di balik namanya, Permiri menyimpan sejarah penting pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Permiri adalah singkatan dari Perusahaan Minyak Republik Indonesia (PERMIRI), perusahaan minyak bumi pertama milik bangsa Indonesia yang berdiri setelah kemerdekaan tahun 1945. Keberadaan PERMIRI sangat berperan dalam mendukung perjuangan Republik Indonesia, khususnya di Sumatera Selatan.

Saat ini, Kelurahan Pasar Permiri berada di Kecamatan Lubuklinggau Barat II dan mencakup sejumlah lokasi strategis seperti Stasiun Kereta Api Lubuklinggau, Pasar Inpres, Alun-alun Merdeka Museum Subkoss, serta Masjid Agung As-Salam.

Pemandu Museum Subkoss Lubuklinggau, Berlian Susetyo, menjelaskan bahwa pada masa 1945–1949 minyak bumi menjadi sumber daya yang sangat strategis, baik untuk kebutuhan ekonomi maupun persenjataan para pejuang Republik Indonesia.

Hal ini terbukti pada masa pendudukan Jepang. Jepang pertama kali menyerang kota-kota penghasil minyak seperti Tarakan, Balikpapan, dan Palembang, menandakan betapa pentingnya minyak bumi sebagai sumber kekuatan perang. Minyak digunakan untuk menggerakkan kendaraan, tank, kapal, hingga pesawat tempur.

Setelah pemerintahan sementara terbentuk di Palembang, atas instruksi AK Gani, didirikanlah PERMIRI di bawah pimpinan Mohamad Isa. Kilang-kilang PERMIRI di Sumatera Selatan berhasil mengolah minyak mentah menjadi bensin, solar, dan minyak tanah.

Hasil olahan minyak tersebut kemudian dimanfaatkan untuk barter demi memenuhi kebutuhan perjuangan. Minyak ditukar dengan bahan makanan seperti beras, jagung, dan gaplek, serta dengan kebutuhan penting lain seperti kain, seragam tentara, kelambu, dan obat-obatan.

PERMIRI juga membangun kilang minyak di Kenali Asam, Jambi, yang mampu menghasilkan avtur untuk bahan bakar pesawat. Minyak dari Jambi ini kemudian disalurkan ke berbagai daerah, termasuk Lubuklinggau, Bengkulu, dan Tapanuli.

Namun, keberhasilan PERMIRI menarik perhatian Belanda. Setelah Perang 5 Hari 5 Malam pada Januari 1947, Palembang dikuasai Belanda sehingga unsur pemerintahan dan militer Republik Indonesia mundur ke daerah lain, termasuk Lubuklinggau. Kantor PERMIRI pun dipindahkan ke Prabumulih.

Pada masa Agresi Militer Belanda I dan II, banyak kilang minyak milik PERMIRI dibumihanguskan oleh para pejuang agar tidak dimanfaatkan Belanda. Akibatnya, PERMIRI akhirnya membubarkan diri pada tahun 1948.

Meski demikian, peran PERMIRI sangat besar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan. Minyak hasil olahan PERMIRI Sumatera Selatan dan Jambi disalurkan ke Lubuklinggau dan wilayah sekitarnya. Daerah penampungan minyak di Lubuklinggau inilah yang kemudian dikenal dengan nama PERMIRI.

Seiring waktu, nama tersebut melekat dan kini menjadi nama kelurahan, yaitu Kelurahan Pasar Permiri, sebagai pengingat bahwa wilayah ini pernah menjadi bagian penting dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. (*)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *