Lubuklinggau – Kota Lubuklinggau merupakan salah satu kota di Provinsi Sumatera Selatan. Kota ini dikenal dengan julukan Kota Transit karena letaknya yang strategis di persimpangan Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum), yang menghubungkan Provinsi Sumatera Selatan dengan Jambi dan Bengkulu.
Selain memiliki posisi geografis yang penting, Lubuklinggau juga menyimpan sejarah dan budaya yang unik serta menarik. Salah satunya adalah asal-usul penamaan Kota Lubuklinggau.

Kata lubuk merupakan kata benda yang berarti bagian terdalam dari suatu perairan. Lubuk biasanya berupa cekungan di dasar sungai, di mana aliran airnya tenang atau bahkan tidak terlihat mengalir.
“Dalam konteks geografis, kata lubuk merujuk pada bagian terdalam Sungai Kelingi yang mengalir membelah wilayah Lubuklinggau,”
Sementara itu, kata Linggau memiliki dua versi cerita yang berkembang di masyarakat.
Versi Legenda Kerajaan
Versi pertama berasal dari cerita legenda zaman kerajaan. Dalam cerita tersebut, Linggau merupakan nama seorang putra mahkota kerajaan yang sakti, bijaksana, dan dihormati rakyatnya. Sejak kecil, Linggau dikenal memiliki berbagai ilmu ketangkasan dan kesaktian, serta berkepribadian mulia dan berparas tampan.
Banyak gadis di kerajaan yang menginginkan Linggau menjadi pasangan hidup mereka. Namun, Linggau belum berniat menikah karena menyadari beratnya tanggung jawab sebagai calon penerus tahta kerajaan. Keputusannya itu membuatnya dijuluki sebagai “bujang tua”, meski ia tetap teguh pada prinsipnya.
Linggau memiliki seorang adik perempuan bernama Dayang Torek, yang terkenal akan kecantikannya hingga ke kerajaan-kerajaan tetangga. Karena sangat menyayangi adiknya, Linggau merasa bertanggung jawab untuk melindunginya dari niat buruk para raja dan pangeran yang ingin memilikinya dengan berbagai cara.
Kecantikan Dayang Torek akhirnya terdengar oleh seorang pendekar sakti bernama Si Pahit Lidah, yang dikenal memiliki sumpah sakti di mana setiap ucapannya bisa menjadi kenyataan. Si Pahit Lidah berniat mempersunting Dayang Torek, meskipun hal tersebut tidak direstui oleh keluarga kerajaan.
Demi menghindari ancaman tersebut, Linggau menyembunyikan Dayang Torek di dasar Sungai Kelingi dengan membuat sebuah lubuk yang sangat dalam. Konon, lubuk itu dibuat dengan menancapkan taring giginya ke dasar sungai.
Dayang Torek pun selamat dan bersembunyi di lubuk tersebut. Masyarakat meyakini bahwa lubuk tempat persembunyian Dayang Torek berada tepat di bawah jembatan Dusun Linggau, Kelurahan Lubuklinggau Ilir, Kecamatan Lubuklinggau Barat II.
Lubuk tersebut dipercaya keramat dan memiliki keanehan. Meski tampak kecil dan airnya tenang di permukaan, lubuk itu sangat dalam dan hingga kini dianggap sakti serta menakutkan. Masyarakat setempat bahkan percaya bahwa setiap tahun lubuk tersebut memakan korban, yang diyakini sebagai gadis-gadis cantik untuk menemani Dayang Torek.
Karena lubuk tersebut dibuat oleh Linggau, masyarakat kemudian menamainya Lubuk Linggau. Wilayah di sekitarnya pun dikenal sebagai Dusun Linggau, yang akhirnya berkembang menjadi Kota Lubuklinggau.
Versi Tanaman Ubi Linggau
Versi kedua menyebutkan bahwa nama Linggau berasal dari tanaman umbi-umbian yang dikenal sebagai ubi Leng-Kao atau Leng-Kong, yang dibawa oleh pendatang dari Tiongkok.
Penduduk awal Lubuklinggau diketahui berasal dari wilayah Ulak Lebar, yang terletak di kaki selatan Bukit Sulap, tepatnya di sebelah utara Daerah Aliran Sungai (DAS) Kelingi. Pada masa itu, banyak pedagang Tiongkok datang ke wilayah pedalaman untuk berdagang kain sutera, keramik, dan gerabah, yang ditukar dengan hasil alam seperti damar dan getah.
Seiring waktu, para pendatang tersebut menetap di tepi Sungai Kelingi, sekitar kawasan Jalan Kandis dan Ulak Surung. Di sana, mereka menanam ubi Leng-Kao di rawa-rawa pinggiran sungai, dekat dengan permukiman mereka.
Tanaman ini memiliki daun lebar dan tumbuh rapat seperti semak belukar, sehingga tidak terlalu menarik perhatian masyarakat setempat. Ubi tersebut dimanfaatkan sebagai bahan makanan, campuran sup, serta bahan obat-obatan.
Karena sulit mengucapkan nama Leng-Kao atau Leng-Kong, masyarakat lokal kemudian menyebutnya dengan dialek setempat menjadi ubi Lingge atau Linggau.
Wilayah tempat tumbuhnya ubi tersebut merupakan kawasan sungai yang airnya tenang dan cukup dalam (lubuk). Dari situlah masyarakat menyebut daerah pemukiman baru tersebut sebagai Lubuk Linggau, yang kemudian menjadi nama dusun dan akhirnya ditetapkan sebagai Kota Lubuklinggau. (AB)

